Menulis Suka-suka Saja

Hari itu saya sedikit ragu, kala Mak Injul (sapaan akrab Mak Indah Julianti) mengajak saya untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh Keme...

Inspirasi dan Cerita dari #SapaSahabatKeluarga

Hari itu saya sedikit ragu, kala Mak Injul (sapaan akrab Mak Indah Julianti) mengajak saya untuk mengikuti workshop yang diadakan oleh Kemendikbud di salah satu hotel di Jogjakarta. Bagaimana saya bisa yakin ikut, jika tema yang dibahas adalah seputar keluarga. Apalagi sebagai syaratnya, saya harus menulis tentang pola asuh keluarga. *Ahelah, Romlah! pola makan saja saya kocar-kacir gimana paham pola asuh keluarga! -_-

Mak Injul bilang, saya bisa menuliskan tentang pola asuh orang tua saya di rumah. Baiklah, akhirnya saya iyakan undangannya dengan sedikit curhat tentang masa kecil saya di tulisan.

Workshop Sapa Sahabat Keluarga Jogja

Malam pertama saat pembukaan, saya bersama 20an blogger lain diajak masuk ke dalam forum diskusi bersama peserta dari workshop kemendikbud berbeda lainnya. Suasananya sangat formal dan cenderung membosankan. Kami yang mulai mengantuk bahkan memilih keluar ruangan untuk mengambil coffee break terlebih dahulu. Saya sempat merasa salah keputusan untuk ikut acara tersebut, karena saya fikir akan berada di forum diskusi yang sama selama 3 hari 2 malam. Kenyataanya, saya justru dapat menimba banyak ilmu selama dua hari berikutnya.

Hari kedua selesai sesi olahraga, kami masuk kelas literasi. Pematerinya tidak tanggung-tanggug, seorang penulis senior yang sudah banyak menelurkan karya, Gol A Gong. Di sesi awal kami hanya diajak untuk mengikuti games imajinasi, di mana kami diminta membuat kolompok beranggotakan 6 orang kemudian masing-masing orang berperan sebagai tokoh dalam keluarga. Ada ayah, ibu, anak, pembantu, hingga sopir. Lengkap dengan nama masing-masing beserta karakter dan sifatnya. Pemeran ayah diminta untuk maju ke depan dan menghapal beberapa bait kalimat yang berima sama, lalu membisikkannya pada salah satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga terakhir harus menuliskan kalimat tersebut untuk kemudian dikoreksi.

Workshop Sapa Sahabat Keluarga Jogja
Games bersama Gol A Gong
Menurut saya pribadi, games ini memiliki banyak maksud dan pembelajaran. Kami diminta membuat karakter tokoh keluarga bermaksud untuk mengasah imajinasi kami. Seorang penulis memang perlu memiliki imajinasi, utamanya bagi penulis fiksi. Menghafal kalimat panjang dengan rima sama sudah pasti mengasah kemampuan ingatan, sementara membisikkan kalimat secara maraton mengajarkan kekompakan.

Pagi itu kami juga diceritakan sedikit tentang pengalaman hidup seorang Gol A Gong yang harus kehilangan tangan kirinya saat masih usia anak-anak. Tangannya terpaksa diamputasi karena salah penanganan pasca terjatuh dari pohon. Pada usia tersebut ia berkeyakinan bahwa tangannya akan tumbuh kembali kelak. Sebuah pemikiran yang membangun optimisme pada diri sendiri, dan memang harus seperti itulah hidup. Mengubah ketidakmungkinan menjadi keyakinan  yang membangun, bukan terpuruk dan menyerah pada keadaan.

Sepanjang saya mendengar cerita dari Gol A Gong, saya merasa malu dengan diri sendiri. Bagaimana tidak? Ia dengan ujian yang barangkali jika terjadi pada saya, tidak akan sanggup saya pikul, bisa seoptimis itu menjalani hidupnya, bahkan bisa mengumpulkan banyak karya dan prestasi.

Balada si Roy salah satu karya Gol A Gong
Balada si Roy salah satu karya Gol A Gong

Ia dengan keterbatasannya sudah menulis sekitar 125 buku, keliling sekitar 20 negara, bekerja di berbagai media besar nasional, dan menjadi juara di berbagai kejuaraan badminton tingkat nasional bahkan internasional. Benar, selain menjadi seorang penulis ia juga pernah menjadi atlet badminton. Bahkan pernah menjadi juara pada badminton cacat se-asia pasific secara berturut-turut pada 1986-1990. Sungguh saya tertampar dengan segala prestasi yang ia raih. Lalu selama ini saya sudah ngapain aja ya? duh!

Pada sesi berikutnya, masih bersama Gol A Gong kami belajar tentang esai. Mungkin banyak yang sudah tahu apa itu esai, namun terkadang ada kesalahan dalam pemahamannya. Misalnya, saya sendiri selama ini belum paham apa bedanya esai dengan feature. Beberapa kali saya membuat tulisan feature yang ternyata masuk kategori esai karena masih salah dengan memasukkan opini pribadi. Nah di sinilah letak perbedaan keduanya. Pada esai memuat pemikiran si penulis, sementara feature hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh narasumber.

Gol A Gong juga meminta kami untuk melakukan riset dengan masuk ke mall dan mengamati berbagai hal di sana untuk mencari ide sebuah tulisan. Menurutnya, tulisan esai bisa apapun dari apa yang kita lihat. Kita memiliki kebebasan menulis esai karena ada undang-undang yang melindunginya, asalkan berdasarkan fakta yang menguatkan.

Ngomong-ngomong soal tips menulis esai dan lain-lain ini bisa kalian baca di beberapa blogpost teman blogger lain yang sudah banyak ditulis ya. Di blogpost ini saya hanya mengutip beberapa hal yang menginspirasi dari beliau yang semoga juga bisa membangun semangat kita untuk terus belajar menulis lebih baik.

Pada akhir perjumpaan kami, Gol A Gong memberikan sebuah kutipan :

Saat menulis, kita harus melewati proses membaca. Karena menulis adalah membaca 2 kali, 3 kali, dan seterusnya. Tidak ada proses menulis tanpa membaca. -Gol A Gong

Sore hari, selesai sesi Gol A Gong, kami diajak ke objek wisata Tebing Breksi. Kali ini kami berjumpa dengan Mas Iqbal, salah satu kreator channel youtube film maker muslim yang melejit lewat videonya yang berjudul cinta subuh. Oleh Mas Iqbal kami diberikan banyak pengetahuan mengenai bagaimana memproduksi konten berupa video.

Balada si Roy salah satu karya Gol A Gong
doc : Fuji Rachman

Dari Mas Iqbal ini juga saya mendapat cerita yang menginspirasi, utamanya tentang bagaimana membuat sebuah konten dengan kualitas maksimal meskipun dengan keterbatasan alat, budget, dan personil. Seperti di film pendek cinta subuh tersebut, siapa yang menyangka, film dengan jutaan viewer di youtube tersebut hanya dikerjakan oleh 4 orang, dengan talent 3 orang, dan hanya menggunakan 2 kamera dslr & mic. Jadi menurutnya, keterbatasan bukan menjadi alasan untuk membuat karya yang berkualitas.

Masih di Tebing Breksi, kami lantas diberikan tantangan membuat konten video berdurasi 1 menit dengan tema "bebas". Beranggotakan 4 orang setiap kelompok, saya bersama Mas Ardian, Mas Dimas, dan Mba Zaki membuat video yang menceritakan tentang sebuah kebebasan untuk bermimpi. Di mana di video tersebut kami menyampaikan pesan bahwa hidup tidak hanya perkara sekolah, bekerja, menikah kemudian mati. Setiap orang yang hidup di dunia ini berhak untuk membuat mimpi besar dan berusaha untuk mewujudkannya.

Mas Iqbal di Sapa Sahabat Keluarga Jogja
doc : Fuji Rahcman
Keesokan harinya, kami diminta mempresentasikan video kami masing-masing. Benar saja, meski masih jauh dari kata sempurna, nyatanya kami masih bisa membuat konten video yang masih layak ditonton meskipun dengan alat seadanya. Video kelompok kami bisa kalian lihat di sini :




Dari kedua pemateri yang dihadirkan kemendikbud tersebut, saya pribadi bisa mengambil kesimpulan, bahwa tak ada alasan untuk berkarya dan berprestasi. Keterbatasan fisik ataupun alat bukanlah sebuah alasan untuk tidak menjadi seorang content creator yang produktif. Semua hal bisa diusahakan dengan semangat belajar dan konsisten.

Ngomong-ngomong, kalian juga bisa menjadi salah satu kontributor penulis di Kemendikbud lho dengan menulis seputar parenting, kiat-kiat mendidik anak, atau cerita inspiratif lainnya di sini. Selamat menulis!





14 comments:

  1. videonya mas Aji apik. Aku kalo ngomong di depan kamera blibet hahahaha

    ReplyDelete
  2. Hidup emang sering tidak adil. Kelompok ini harusnya tidak menang videonya. Hahaha.....iriiiii

    ReplyDelete
  3. Panteeess ajaaa kamu yang menaaanggg *tetep gak terima, haha

    ReplyDelete
  4. Ji Aji. Nganu saya. Hahaha...

    Mbayangke kamu nggendong bayi. Terus sayang²an sama isteri. Tapi apapun bisa terjadi. Siapa tahu setahun setelah acara ini. Kamu bisa ijab qobul. Aamiin.

    Ada kamu. Semua even pasti rame.

    Salam
    @nuzululpunya

    ReplyDelete
  5. Kenapa ya pas pembagian kelompok ga deket deket Aji duduknya. *nyesel *gigitkuku *uweluwelkudung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho pas pembagian aku kan gak ada mak. Wkwkwkw

      Delete
  6. Swear tiap kali ketemu sosok vlogger sekaligus blogger ini hepi juga jiper.Ini orang super ngehits dengan segala multi talentanya.sukses terus kak

    ReplyDelete