Apa sih narkoba itu?
Apa sih narkoba itu?


"Pakai narkotika itu boleh tidak?"

Sebuah pertanyaan dari Ibu Siti Alfiah, kepala BNN Kab. Sleman DIY pada sebuah acara beberapa waktu lalu. Kami yang berada di ruang yang sama ragu untuk menjawabnya. Tak lama, beliau sendiri yang menjawabnya dengan mantap.

"Boleh!!!"
"Narkotika itu boleh digunakan, bahkan ada undang-undang yang mengaturnya. Yang tidak boleh adalah penyalahgunaannya."

Kami pun mengangguk sambil bergumam bersamaan.

"Laki-laki di sini sudah sunat semua kan? berarti kalian pernah menggunakan narkotika!"

YHAAAAAAA ternyata. ehehe 
Happiness Hero Paxel
Happiness Hero Paxel

Di era yang serba digital saat ini, hampir semua keperluan kita sehari-hari selesai hanya dalam genggaman tangan. Bener gak sih? misalnya pas mau pergi-pergi, sekarang gak perlu repot nungguin kendaraan umum di pinggir jalan. Tinggal buka aplikasi ojek online, order, tiba-tiba ada driver jemput ke tempat. Atau kalau lagi lapar tinggal buka aplikasi dengan cara yang sama, makanan tiba-tiba diantar sampai rumah. Praktis bukan? Kalau saya pribadi sih sangat merasakan manfaat digitalisasi ini.

Kabar baiknya, pelayanan yang serupa sekarang sudah ada di jasa pengiriman barang. Jadi kita bisa kirim barang melalui aplikasi di gawai tanpa perlu repot mengantar barang ke agen pengiriman. Ya walaupun ada beberapa ekspedisi yang memiliki layanan pic up juga, tapi dengan aplikasi ini kita bahkan bisa memantau proses pengiriman secara lebih detail. Keren kan? nah, di blogpost saya kali ini, mari kita obrolin lebih jelas mengenai aplikasi pengiriman barang yang bernama PAXEL ini.

Sudah hampir dua tahun berlalu saat artikel ini saya tulis. Telat sih, tapi daripada engga ya gak sih? Sebenarnya sudah pernah saya draft sebelumnya, tapi tiba-tiba menghilang begitu saja, kayak kamu pas aku lagi sayang-sayangnya. *Plakkk!

Jadi, pada 3-5 Februari 2017 lalu, saya kembali diundang ke Jakarta oleh NET Mediatama untuk mengikuti acara tahunan mereka yang menjadi ajang berkumpulnya Citizen Journalist dari berbagai daerah di nusantara, bahkan dunia. Acara ini sekaligus menjadi ajang berbagi ilmu seputar citizen journalism, serta memberikan apresiasi bagi CJ yang dinilai memiliki prestasi oleh redaksi NET. CJ mana yang gak mau ikut acara sekeren ini coba? Btw, untuk cerita saya di NET CJ Camp 2.0 tahun sebelumnya bisa kamu baca di sini.

NET CJ Camp 3.0
NET CJ Camp 3.0
Belanja merupakan sebuah kegiatan yang tidak semua orang suka. Rata-rata aktivitas ini hanya digemari oleh kaum hawa saja. Meski demikian, sebenarnya hal ini tidak bisa digeneralisir karena ada pula pria yang tidak memiliki masalah dengan aktivitas berbelanja. Saya misalnya. Walaupun tidak se “addict” para wanita, tetapi bagi saya berbelanja tidak hanya sekedar aktivitas jual beli saja. Berbelanja juga bisa menjadi semacam terapi untuk menghilangkan stres dan membuat hati merasa lebih bahagia. 

Transmart Solo Pabelan
Transmart Solo Pabelan
Saya masih ingat betul bagaimana kemeriahan opening ASIAN Games 2018 lalu. Bahkan euforia masyarakat Indonesia dan negara asia lainnya selama pertandingan berlangsung masih bisa dirasakan hingga sekarang. Buktinya, cobalah mendengarkan lagu Meraih Bintang dari Via Vallen. Secara otomatis ingatan kita seakan dibawa ke saat di mana pesta olahraga terbesar seAsia tersebut digelar. 
 
Opening O2SN 2018
Opening O2SN 2018

ASUS VivoBook Flip TP410
Beberapa waktu lalu, saya melemparkan sebuah polling di twitter mengenai pembelian produk dengan sebuah pertanyaan :

“Dalam membeli produk, kalian termasuk yang mana?”
A.    Setia pada satu merk & gak pernah ganti
B.     Merk apapun asal harga murah atau lagi discount

Saya memang tidak menyebutkan untuk kebutuhan produk apa. Yang jelas saya hanya ingin tahu secara umum mereka biasanya menyikapi hal tersebut seperti apa. Dari 36 voters, ada 61% memilih jawaban A, sementara sisanya sebanyak 39% menjawab B. Itu artinya, mayoritas orang kita masih mempertimbangkan merk yang sudah mereka yakini baik kualitasnya dibandingkan harga murah dengan merk yang tidak biasa mereka pakai (*meski hasil polling ini tidak sepenuhnya bisa jadi patokan).



Beberapa waktu yang lalu, dunia pemberitaan kita sedikit diramaikan dengan kedatangan pemain bola idola sejuta umat kecuali saya  David Beckham. Salah satu tujuan kedatangannya di Indonesia adalah sebagai UNICEF Goodwill Ambassador. Dalam hal ini ia melakukan kampanye melawan bullying dan kekerasan dari teman sebaya di sekolah. Tapi ngomong-ngomong soal berita, media nyatanya lebih tertarik menyorot Sripun, siswa SMPN 17 Semarang yang kala itu beruntung mendampingi Beckham dibandingkan membahas kampanye yang Beckham bawa. Pun dengan netizen yang lebih fokus dibuat dengki melihat instagram stories Beckham yang secara suka rela di “hack” seharian oleh Sri.

Oke, kita lupakan tentang Beckham dan Sri. Kali ini saya ingin sedikit syurhat sharing seputar perilaku dan dampak bullying, setidaknya yang pernah saya alami sendiri. Tidak tahu kenapa, saya merasa kesadaran masyarakat kita tentang bahaya dampak bullying masih kurang. Padahal, bullying merupakan kekerasan dan kejahatan serius. Bahkan tak jarang perilaku ini membuat korban depresi dan melakukan tindak bunuh diri. Seserius itu kah? Coba saja gugling ada berapa kasus bullying berakhir demikian.

Tau gak sih, jika bullying itu berdampak traumatis? Dan tentu saja, bullying yang dilakukan sejak dini ikut membentuk karakter korban hingga dewasa. Paling mungkin, dampak bullying mengakibatkan korban memiliki rasa takut, rasa malu, rasa minder, rasa bersalah, atau berbagai emosi negatif lainnya. Dan itu sangat mempengaruhi pergaulan dan sosialiasi terhadap lingkungan sekitar.

Saya sering berkata kepada teman-teman yang melakukan bullying dengan menyebut “bullying itu jahat!!!” Lalu, ditimpali jawaban enteng “gak segitunya juga!”. Mereka lupa, setiap orang memiliki kesiapan mental yang berbeda-beda. Mending kalau korban bullying memiliki mental yang cukup kuat (meski perilaku bullying tetap tidak bisa dibenarkan), jika ia seorang yang rapuh? Pernahkah pelaku mencoba memposisikan diri sebagai korban?

Ada beberapa tipe bullying seperti bullying verbal, fisik, sosial, dan cyberbullying. Saya adalah korban bullying verbal dan sosial. Bullying verbal adalah segala bentuk bullying yang mengandalkan penggunaan kata-kata atau bahasa untuk menyerang target. Contoh bullying verbal antara lain menghina, mengejek, mencemooh atau menyindir seseorang. Penampilan fisik, orientasi seksual, gender dan ras adalah contoh hal-hal yang paling sering dijadikan bahan ejekan atau serangan verbal. Bullying ini adalah jenis bullying yang paling umum terjadi.

Saya mengalami bullying verbal ini sudah sejak di sekolah dasar. Sejujurnya, saya sangat bersyukur memiliki fisik yang tak ada cacat. Hanya saja, ada seribu alasan orang melakukan bullying. Jika dibandingkan teman-teman sebaya saya kala itu, secara fisik saya memang memiliki pertumbuhan yang sedikit terlambat. Hahaha Iya, saya terlihat lebih pendek dari yang lainnya. Ditambah lagi ukuran badan lebih gempal, semakin empuk jadi sasaran bullying. Ada lagi karena gesture, suara, dan nama saya mirip perempuan, dan masih banyak hal lain yang sebenarnya biasa saja. Tapi sekali lagi, banyak alasan pelaku melakukan tindak bullying . Saya mendapat perlakuan itu dari beberapa teman. Yes, memang hanya segelintir saja, untungnya. Namun, percaya atau tidak, tindakan mereka membuat saya kurang percaya diri kala itu. Sampai di sini, semoga kamu paham dampak bullying, bagaimana seorang anak yang tumbuh dan bergaul tanpa rasa PERCAYA DIRI.

Lalu, saya juga pernah mengalami bullying sosial. Bullying sosial adalah tipe bullying yang dilakukan untuk menjatuhkan reputasi sosial seseorang. Tipe bullying ini biasanya dilakukan di belakang korban. Contoh bullying sosial antara lain menyebarkan gosip, mengucilkan seseorang, sengaja meninggalkan seseorang, dan memasang ekspresi atau gestur yang melecehkan.

Tindak bullying ini saya dapatkan saat kelas 2 SMP. Karena ada 1-2 orang teman yang tak suka dengan saya, lalu menghasut teman lain yang entah bagaimana ceritanya, sampai saya dikucilkan oleh hampir semua teman laki-laki satu kelas. Sedih? Iyalah. Apalagi saya tak pernah tau apa salah saya sampai mendapat perlakuan itu. Sejak saat itu, saya menjadi seorang yang pemikir dan gelisah saat dimusuhi tanpa sebab. Entah bagus atau tidak, saya jadi suka mempersalahkan diri sendiri. Misalnya, ada teman yang tiba-tiba mendiamkan saya tanpa sebab, saya akan memikirkan apa salah saya terus-terusan. Semacam introspeksi yang berlebihan, karena saya memposisikan diri saya sendiri sebagai pihak yang salah. Dan itu akan terus saya pikirkan sampai kebawa mimpi. Seriously, itu sangat menyiksa. Lebay? Mungkin. Tapi itulah yang terjadi. Sebagian orang mungkin akan berkomentar, “kamu tu baperan!” Saya rasa perkaranya tidak sesimple itu sih, tapi ini salah satu dampak traumatis yang tadi saya bilang di awal.

Beruntung, saya tak pernah mendapat bullying fisik. Mungkin hampir pernah, tapi saya masih punya keberanian melawan. Saat SD sampai SMP saya diuntungkan dengan memiliki kakak yang dikenal bandel, yang kebetulan memang satu sekolah. Sumpah, ini satu-satunya keuntungan memiliki saudara yang terkenal nakal & suka berantem. Ehehe Beberapa kali saya hampir dapat perlakuan bullying fisik, tapi urung karena mereka takut diaduin ke kakak saya. Ini maksud saya masih memiliki keberanian tadi. Berani ngadu!  :p

Karena waktu SMP pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan, maka saat SMA saya berani mengubah sikap & pergaulan. Kebetulan saya berteman baik dengan anak bandel yang cukup ditakuti di kelas 10 kala itu. Berhasil sih, saya jadi bebas dari palak dan perlakuan kurang menyenangkan dari anak nakal kelas lain. Tapi semua hal selalu ada konsekuensinya. Kalau kata orang tua dulu, “berkumpul sama tukang sate, maka akan bau sate. Berkumpul sama tukang baso, maka akan bau baso”. Berteman dengan anak bandel, ya otomatis ikutan bandel. Hasilnya? sekali dalam seumur hidup nilai raport saya ada warna merah kala itu. Ehehe

Yang terakhir nih, Cyberbullying. Adalah segala bentuk bullying yang dilakukan dengan bantuan media elektronik seperti ponsel atau komputer, lewat SMS, email, jejaring sosial dan layanan sosial elektronik lainnya. Contoh cyberbullying antara lain mengirimkan pesan yang abusif, mengepos komentar yang ofensif, mengepos foto atau video yang memalukan, atau memalsukan profil seseorang.

Semakin ke sini, cyberbullying semakin marak. Itu tak lepas dari perkembangan tekhnologi yang semakin mempermudah orang untuk komunikasi. Pun dengan tindakan bullying di dalamnya. Contohnya seperti apa? Netizen lebih paham sepertinya. Hahaha

Saya mungkin korban bullying yang tak seberapa. Tapi cobalah lihat, di luar sana banyak yang kehilangan masa depan hanya gara-gara tindakan kriminal yang dianggap biasa itu. Inti dari tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan pesan, jangan rusak mental seseorang dengan tindakan bullying, apapun itu bentuknya. Kamu tidak akan pernah tahu dampak apa yang terjadi dengan korban, baik secara langsung atau tak langsung. Jika tujuanmu bercanda, masih banyak cara untuk tertawa bersama, dengan bahagia. Salam.

Q : Isinya soal bullying kenapa fotonya senja?
A: Ya gak papa, namanya juga sayang.

BHAY!

Previous PostOlder Posts Home