Menulis Suka-suka Saja

Pucuk Coolinary Festival Jogja Saya paling sulit menjawab pertanyaan dari kawan dari luar kota yang hendak ke Jogja mengenai kuliner ap...

Goyang Lidah di Pucuk Coolinary Festival; Temukan Rasa Favoritmu

Pucuk Coolinary Festival Jogja
Pucuk Coolinary Festival Jogja
Saya paling sulit menjawab pertanyaan dari kawan dari luar kota yang hendak ke Jogja mengenai kuliner apa yang wajib ia cicipi di kota ini. Masa harus saya jawab gudeg. Gak perlu nanya saya pun barangkali semua orang juga tahu kalau gudeg salah satu kuliner wajib di Jogja. Lha wong makanan khas yang paling identik dengan kota pelajar ini tak lain dan tak bukan memang gudeg.

Kuliner Jogja itu beragam lho, bahkan bisa dikatakan semua makanan yang ada di nusantara hingga mancanegara ada di kota ini. Tapi gak mungkin juga kan saya harus menyusun daftarnya satu-satu. Biasanya, saya akan balik bertanya mengenai selera kawan saya tersebut sebelum menjawabnya. Apakah ia suka makanan yang pedas, gurih, manis, atau yang lainnya. Dengan mengetahui seleranya, setidaknya saya bisa lebih mudah menemukan kuliner yang cocok sesuai selera kawan saya tersebut.

Beruntung sekali, weekend kemarin saya dibantu oleh pucuk harum untuk mengklasifikasikan ratusan kuliner Jogja ke dalam tiga zona rasa favorit, yakni pedas, gurih, dan manis ke dalam acara Pucuk Coolinary Festival dengan tajuk "temukan rasa favoritmu". Dalam acara ini, saya bisa menemukan 100 lebih tenant kuliner yang berasal dari Jogja baik yang sudah diketahui masyarakat secara luas atau bahkan belum dikenal dan populer sekalipun. Namun yang pasti, kesemua tenant kuliner yang dihadirkan dalam festival kuliner ini sudah melalui kurasi oleh tim pucuk harum dan dipastikan memiliki cita rasa yang terbaik. Seru bukan, bisa menikmati beragam sajian kuliner Jogja dalam satu tempat saja?

Pucuk Coolinary Festival Jogja - Temukan Rasa Favoritmu
Pucuk Coolinary Festival Jogja - Temukan Rasa Favoritmu
Pucuk Coolinary Festival ini sendiri digelar di lapangan Mandala Krida Jogja dari tanggal 30 hingga 31 Maret 2019. Meski hanya selama 2 hari saja, tetapi sudah cukup memanjakan lidah para penikmatnya. Jogjakarta sendiri dipilih sebagai kota pertama dari lima kota besar yang akan dikunjungi selama tahun 2019. Kekayaan kuliner yang beragamlah yang menjadi alasan tim pucuk harum memilih kota pelajar ini untuk dikunjungi pertama kali. Tahun ini merupakan tahun kedua setelah tahun sebelumnya sukses digelar di dua kota, yakni Malang dan Bandung.

Banyak alasan kenapa kamu tidak boleh melewatkan acara ini jika singgah di kotamu. Pertama, acara ini gratis tidak dipungut biaya. Kedua, jumlah tenant kuliner yang dihadirkan lebih dari 100 tenant dan melewati proses kurasi di mana dipastikan cita rasanya tak mengecewakan. Ketiga, harga di setiap tenant sama dengan harga di outlet aslinya, bahkan ada happy hour di mana kita bisa mendapatkan discount dari jam 12-15 WIB dan 16-19 WIB. Keempat, banyak lomba yang bertabur hadiah menarik seperti voucher gratis hanya dengan memposting stories di instagram, lomba posting instagram dengan hadiah smartphone, spicy king noddle contest dengan hadiah jutaan rupiah serta ada grand price 2 motor yamaha NMax. Siapa gak mau coba!

Spicy King Nodlle Contest yang saya ikuti saat media gathering
Pemilihan lapangan mandala krida sebagai tempat digelarnya acara ini menurut saya sangat tepat. Selain memang berada di tengah kota yang mudah dijangkau, areanya pun cukup luas sehingga tampak lega dan tidak berdesakan. Saking leganya, banyak meja kursi yang ditata rapi di setiap zona rasa untuk dipakai oleh para pengunjung menyantap makanan. Fasilitas lain seperti tempat sampah hingga toilet portable pun tak lupa disiapkan. Bahkan panitia masih bisa menyediakan bean bag di depan panggung bagi pengunjung bersantai menikmati hiburan. Ciamik!

Panggung Utama Pucuk Coolinary Festival Jogja
Panggung Utama Pucuk Coolinary Festival Jogja
Petualangan saya di pucuk coolinary festival dimulai dari zona gurih. Zona ini berada di gate depan sehingga menjadi zona pertama yang dilewati oleh para pengunjung. Ada banyak tenant yang siap memanjakan lidah penikmat kuliner gurih di zona ini. Sejak pertama masuk, indra penciuman saya langsung tertuju pada sebuah tenant yang berasap dan menyebarkan aroma daging bakar. Berada di sisi kanan, saya menemukan salah satu kuliner favorit saya, sate gajih (sate kere). Tenant dengan nama sate gajih Bu Ponijah tersebut menjadi kuliner pembuka saya. Memiliki cita rasa yang manis gurih, sate gajih ini patut dicoba bagi para pecinta kolesterol. Sayangnya, tekstur sate gajihnya masih terlalu alot. Saya justru lebih bisa menikmati sate dagingnya. Untuk sate gajih, saya hanya perlu membayar 3 ribu rupiah per tusuknya, sementara sate daging 4 ribu rupiah.

Sate Gajih Bu Ponijah di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Sate Gajih Bu Ponijah di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Belum puas dengan sate gajih, masih di zona gurih saya berpindah ke barisan tenant sebelah kiri. Lagi-lagi saya menemukan tenant sate. Kali ini sate buntel yang berasal dari Solo. Aneka sate ini menurut saya berhasil menyita perhatian para pengunjung karena dari kejauhan mereka sudah bisa mengundang lewat aroma dan asapnya. Di sate buntel priyayi Solo ini, saya harus menyiapkan uang 30 ribu untuk 2 tusuk satenya tanpa nasi. Sate buntel sendiri, berasal dari daging kambing yang dicincang & dibikin adonan, kemudian dikepal, ditusuk, dan dililit dengan lemak kambing. Oleh karena itu tidak heran jika sate ini mengeluarkan aroma daging panggang yang sedap dengan tekstur yang berminyak menggoda. Sejak pertama mencicipinya, saya yakin tenant ini akan menjadi salah satu tenant favorite, apalagi pemilik tenant yang cukup ramah melayani para pelanggan. Dan tak salah, sate buntel priyayi Solo sukses menjadi tenant favorite pertama di zona gurih saat pengumuman di malam puncak.

Sate Buntel Bu Ponijah di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Sate Buntel Bu Ponijah di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Meski tenant lain cukup menggoda, saya menahan diri untuk tidak cepat-cepat mencicipinya. Bagaimanapun juga, saya harus menyiapkan banyak space di perut untuk makanan lain di zona pedas dan manis. Dari zona gurih saya kemudian lanjut ke zona pedas. Sementara zona manis untuk sementara saya lewati saja dan berencana menjadikannya sebagai makanan penutup.

Berbeda dengan zona lain, zona pedas memiliki area paling luas dengan jumlah tenant yang lebih banyak pula. Bahkan pengunjungnya juga lebih padat di zona ini. Wah berani juga ya orang Jogja makan makanan pedas, batin saya. Di sini, saya bisa menemukan beragam kuliner yang sudah kondang dengan cita rasanya yang super pedas, mulai dari mie setan, oseng mercon, dan lain sebagainya. Pilihan saya jatuh pada tenant nasi balap puyung Pak Andi. Selain memang sudah rindu denga makanan khas Lombok ini, saya juga sudah pernah mecicipinya di kedainya langsung yang berada di Jalan Kaliurang. Rasanya mantap, pun saat saya memesannya di festival ini. Sayangnya, saya sedikit merasa menyesal menyantapnya. Bukan, bukan karena tidak enak, tetapi karena saya jadi keburu kenyang untuk mencicipi makanan lainnya. hahaha

Nasi Balap Puyung Pak Andi di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Nasi Balap Puyung Pak Andi di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Tak lagi sanggup mencicipi makanan lain di zona pedas, saya berpindah ke zona manis. Tak perlu berfikir panjang, tenant pertama yang saya kunjungi di zona ini adalah tenant milik Arlecchino Gelato. Saya memang memfavoritkan gelato ini sejak di festival kuliner yang saya kunjungi sebelumnya di JEC. Cita rasa arlecchino gelato memang tak pernah salah. Hampir semua varian rasanya sangat saya sukai, kecuali satu varian rasa yang saya pesan kali ini. Berwarna hijau dengan varian rasa choco mint, cita rasanya menurut saya menyerupai pasta gigi. Ehehee Saya tidak merekomendasikan varian rasa ini, tapi selebihnya harus kalian coba. Harganya cukup 15 ribu untuk 1 skop, 25 ribu untuk 2 skop.

Arlecchino Gelato di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Arlecchino Gelato di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Dengan voucher yang masih tersisa di tangan, saya dan teman-teman kebingungan untuk membeli makanan apa lagi. Sementara itu kondisi perut juga semakin membuncit, tanda sudah semakin terbatasnya space menampung makanan. Kami pun sepakat untuk menghabiskannya dengan membeli churros dan jajanan pasar untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk teman yang lain.

Jajanan Pasar di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Jajanan Pasar di Pucuk Coolinary Festival Jogja
Dari zona manis, selesai sudah petualangan goyang lidah kami di pucuk coolinary festival; temukan rasa favoritemu. Apresiasi yang terbaik untuk pucuk harum yang menghadirkan festival kuliner istimewa ini di Jogjakarta. Selain bisa mengenalkan beragam sajian kuliner yang ada, acara ini juga sangat membantu para pelaku usaha kuliner dan umkm lokal untuk semakin bertumbuh. Ke depan, semoga acara serupa akan lebih sering digelar dan semakin banyak kota yang dikunjungi. So, tunggu  pucuk coolinary festival; temukan rasa favoritmu di kotamu!


10 comments:

  1. Jadi aku gak nongol sama sekali di postingan blog ku, tapi di sini nongol sampe 2X,
    bakat seleb kayanya aku tu

    ReplyDelete
  2. Ku sampai dua kali datang ke Pucuk Coolinary, pengen nyicipin semua kulinernya, tapi yang berhasil hanya kuliner favorit :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Balik ke arlecchino gelato??? SA AE MAMAK MAMAK!

      Delete
  3. Ini dia yang jago kuliner pedas. Sate Buntelnya lezat mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. UWENAKKK BETZ mba!!! ciyus. wkwkwk duh, untuk apa jago kalau dicurangi. *eh

      Delete
  4. Wah sayang banget saya tidak ada di Yogya saat acara ini, kayaknya puas banget Mas jalan dan makannya, tapi tidak capek sebab semua bisa selesai di satu tempat. Memang bagus banget acara seperti ini, jadi tidak capek atau repot mencari tempat kuliner otentik yang tidak semuanya bisa ditemukan dengan cepat dan mudah. Apalagi dengan harga yang sama.
    Saya termasuk yang miskin referensi kuliner Yogya dan beberapa makanan yang dijelaskan di sini sangat membantu mengisi daftar kuliner, haha. Terima kasih, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wwkwkkw km mah kyk hantu, suka tiba2 nongol aja di Jogja. uhuhu

      Delete
  5. kenapa , sate gajih disebut juga sate kere ya om?
    padahal enak lho,, gurih,, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn dl yang makan sate ini orang2 gak mampu beli daging. wkwkwk
      iya enakkkk! favorit banget. ehehe

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung & berkenan meninggalkan komentar :)