Ada Uber dalam Cerita Drama Saya dan Kereta

Moda transportasi darat jarak menengah hingga jarak jauh paling saya sukai adalah kereta api. Apalagi kalau bukan karena lebih aman, nyaman dan tanpa hambatan. Kita tak perlu lagi merasakan kemacetan jalanan yang biasa kita hadapi jika menumpang bus atau transportasi darat lainnya. Sayangnya, untuk menumpang kereta api jumlah kursi dan jadwal perjalanan sangat terbatas. Terkadang kita perlu reservasi tiket jauh-jauh hari untuk menikmati perjalanan bersama kereta api. Tidak seperti bus yang mungkin bisa kita tumpangi kapanpun dan dari manapun dengan jumlah armada yang lebih banyak. Dengan keberangkatan kereta api yang sudah terjadwal inilah yang membuat kita harus benar-benar memastikan kita datang tepat waktu sesuai jadwal. Terlambat sedikit saja, tertinggal sudah. Tiket pun hangus, tidak dapat digunakan untuk kereta berikutnya.

Ilustrasi (sumber: google.co.id)

Saya sendiri termasuk penumpang yang sering mengalami drama mengejar kereta api. Meski belum pernah sampai tertinggal, namun ada saja alasan yang membuat saya harus mengejar jadwal kereta api yang akan saya tumpangi. Terakhir kali dan paling benar-benar membuat saya lemas adalah saat saya akan menumpang kereta api progo yang akan berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Saya yang beberapa hari berada di Kota Bogor berniat untuk pulang dengan menumpang kereta progo tersebut. Sebenarnya ini bukan hal yang pertama bagi saya. Saya biasa melakukannya sehingga tidak ada yang harus saya persiapkan secara khusus. Biasanya, untuk menuju St. Pasar Senen, saya menumpang commuterline (CL) dari St. Bogor.

Sayangnya, drama perjalanan harus saya alami saat itu. Dimulai dengan sebuah alasan yang membuat saya terlambat datang ke Stasiun Bogor. Sebelumnya saya berencana untuk berangkat dari St.  Bogor jam 8 malam, perjalanan ke St. Pasar Senen sampai jam 9.30 malam, dan saya masih punya waktu sekitar 1 jam untuk cetak tiket dan membeli beberapa camilan untuk bekal. Karena sebuah alasan itu lah yang membuat drama malam itu. Jam 8 lewat, saya baru diantar oleh teman saya dengan sepeda motor menuju St. Bogor, itupun harus dengan memutar gara-gara salah jalan. Lalu, tiba di St. Bogor hampir jam setengah 9. Saya pun berlari dari pintu masuk depan hingga peron. Seharusnya saya lega saat sudah berada di atas CL. Namun ternyata drama belum selesai. CL yang saya tumpangi tak kunjung bergerak, saya harus menunggu cukup lama karena hal ini. Lewat pengeras suara saya mendengar informasi bahwa penumpang CL menuju Jakarta harus berpindah ke CL di jalur lain, itu pun hanya sampai St. Manggarai. Semakin lemas saya dibuatnya. Sekitar pukul 9 kurang, CL yang saya tumpangi akhirnya beranjak. Di sepanjang perjalanan, saya hanya duduk diam dengan kaki yang lemas sambil memandang jam di layar HP saya. Berharap kereta progo akan delay macam pesawat terbang. #yakalik

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 10, CL belum juga sampai di St. Manggarai. Biasanya untuk menuju St. Senin saya memang turun di St. Manggarai kemudian disambung dengan CL lain ke St Jatinegara, dan berganti CL lagi menuju St Pasar Senen. Namun dengan situasi saat itu sangat tidak memungkinkan, mengingat waktu yang sangat mepet. Sebelum CL berhenti, saya pun membuka beberapa apikasi ojek online. Seketika saya ingat dengan uber yang katanya punya kelebihan dengan ojek online yang lain. Saya pun segera memesan satu uberMotor untuk mengantarkan saya ke St. Senen. Tak lama CL saya berhenti, dan saya lari keluar. UberMotor pesanan saya sudah menunggu di luar pagar. Di layar HP saya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sayapun meminta driver untuk sedikit mempercepat lajunya.

Ilustrasi (sumber : google.co.id)

Benar saja, akhirnya saya pun sampai di St. Pasar Senen jam 10 lewat. Dengan sisa tenaga saya berlari ke arah mesin cetak tiket mandiri. Saat itu memang masih menggunakan cetak tiket manual, belum boarding pass seperti sekarang ini. Untunglah saya tak perlu mengantri dan masih memiliki sedikit waktu untuk membeli beberapa camilan di minimarket. Saya pun segera masuk ke kereta progo yang sudah menunggu dan mencari kursi sesuai yang tertera di tiket saya. Saya duduk tepat 10 menit sebelum kereta berangkat. Lega? pasti. Lelah? Apalagi. Tapi sekalipun saya tiba-tiba pingsan saat itu, setidaknya saya sudah berada di atas kereta yang mengantarkan saya ke kampung halaman.

Estimasi Biaya
Untunglah ada uber yang membantu menguber waktu. Ternyata benar, uber punya kelebihan dibandingkan dengan ojek online lainnya. Hanya butuh waktu kurang dari 2 menit untuk jemputan datang, tarifnya pun sangat kompetitif. Dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Pasar Senen estimasi biaya hanya sekitar 7 - 9 ribu saja. Lebih cepat dan lebih murah jika dibandingkan dengan ojek online lainnya. Gak perlu was-was lagi deh ngejar jadwal kereta. Nguber waktu? Uberin aja. :)

0 Response to "Ada Uber dalam Cerita Drama Saya dan Kereta"

Post a Comment

Powered by Blogger.