Saatnya Beralih Transaksi Non Tunai "Smart Money Wave"

"Lemes le, ora sido bakdo". Demikian kata bulik saya yang kurang lebih berarti "lemas le, tidak jadi lebaran" sesaat setelah bercerita tentang dompet beserta isinya yang telah jatuh dan hilang di jalan saat perjalanan ke mall untuk membeli baju lebaran anak-anaknya.

Sumber : google.com

Seperti mayoritas orang Indonesia yang memiliki tradisi membeli baju baru sebelum lebaran, keluarga besar saya pun demikian. Naas, uang cash sebesar 4 juta rupiah yang dibawa bulik lenyap begitu saja karena jatuh di tengah perjalanan. Kalau sudah begitu, tak ada yang bisa dilakukan. Mau mencarinya sepanjang jalan yang di lewati pun rasanya sia-sia. Entah berapa orang yang sudah melewati jalan tersebut, dan tidak mungkin jika tak ditemukan oleh seorang diantaranya.

Saya jadi ingat beberapa waktu sebelumnya juga mengalami hal yang serupa. Dompet yang saya simpan di saku celana mendadak lenyap sepulang mengatar Ibu dari pasar. Saya baru menyadarinya saat sudah sampai di rumah. Saya pun segera mencarinya dengan menyusuri kembali jalan tersebut. Namun hasilnya nihil. Lemas rasanya, karena di dompet tersebut berisikan surat-surat penting seperti ktp, sim, stnk, dll. Beruntung, beberapa hari setelahnya seseorang datang ke rumah membawakan dompet saya. Ternyata ia menemukan dompet saya di tengah jalan, dan baru sempat mengembalikannya beberapa hari setelahnya. Ia menemukan dompet saya dalam keadaan kosong. Beberapa uang tunai saya sudah tak ada, tinggal surat-surat saja di dalamnya. Kemungkinan ia adalah penemu kedua.

Dari dua kejadian di atas saya menyadari betapa resiko membawa uang cash begitu besar. Tak hanya resiko hilang saat jatuh, tapi bisa juga hilang karena di curi, dirampok, dipalak, dll. Sejak saat itu, saya memilih untuk tidak banyak membawa uang tunai. Membawanya dalam bentuk kartu debet bisa lebih safety, jika hilang seperti kasus di atas, saya bisa menghubungi bank terkait untuk memblok kartu debet saya, sehingga uang simpanan saya masih aman. Kedua, lebih simple karena tak perlu membawa banyak uang tunai di dalam dompet saya. Ketiga, lebih hemat karena terkadang ada beberapa merchant yang memberikan discount untuk transaksi menggunakan kartu debet. Selain itu masih banyak lagi kelebihan yang bisa saya dapatkan.

Sumber : Google.com
Saat saya tinggal di Kota Bogor, saya semakin terbiasa dengan transaksi non tunai. Tak hanya kartu debet, namun juga transaksi non tunai lain seperti internet banking, kartu flash, dll. Pekerjaan yang menuntut untuk beraktifitas di Ibu Kota membuat saya semakin terbiasa, apalagi di Jabodetabek lebih banyak fasilitas dan merchant yang memanfaatkan transaksi non tunai ini. Commuterline (CL) misalnya. Dulu, CL ini menggunakan tiket manual berupa kertas kecil. Pembeliannya masih manual dengan cara antre, dan saat pemeriksaan di gerbong dengan cara menunjukannya dan kemudian dilubangi. Untunglah, cara ini kemudian berganti dengan cara elektronik. Saya ikut merasakan manfaatnya saat masa transisi ini. Ada beberapa pilihan untuk penggunaan e-tiket. Tiket Harian Berjaminan (THB) yang bisa dipakai dalam sekali trip, atau multi card yang bisa dipakai berulang dan dapat diisi ulang. Awalnya saya memilih memakai tiket THB, namun belakangan saya memanfaatkan kartu flazz dari bank BCA yang saya gunakan. Saya memilihnya karena kartu ini multifungsi, tak hanya untuk membayar CL, namun juga dapat digunakan untuk busway, tol, parkir, minimarket, dan masih banyak lagi. Saya sangat terbantu dengan kartu flazz ini. Bank lain seperti Bank Mandiri (E-Money), Bri (Brizzi), dll juga memiliki layanan yang serupa. Tak hanya dari layanan bank loh, provider telekomunikasi/seluler juga tak ingin kalah dengan menyediakan layanan pembayaran non tunai dari nomor yang terdaftar. Saya sendiri punya pengalaman menggunakan layanan dari Indosat (Dompetku), XL (E-Wallet), dan Telkomsel (T-Cash). Layanan trasaksi non tunai semacam ini semakin berkembang, tak hanya menggunakan media kartu atau nomor seluler. Baru-baru ini bahkan BCA berenovasi dengan aplikasi android yang mereka beri nama "sakuku". Intinya, semua memiliki fungsi yang sama, memberikan layanan transaksi non tunai agar konsumen semakin mudah dalam bertransaksi.

Semua layanan tersebut merupakan dukungan terhadap Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan oleh pemerintah melalui Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, pada Kamis, 14 Agustus 2014 di Jakarta. Pencanangan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Bank Indonesia dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Pemerintah Daerah serta Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia sebagai komitmen untuk mendukung GNNT.



Dibandingkan negara-negara ASEAN, penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik yang dilakukan masyarakat Indonesia relatif masih rendah, sementara dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, masih terdapat potensi yang cukup besar untuk perluasan akses layanan sistem pembayaran di Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia bersama perbankan sebagai pemain utama dalam penyediaan layanan sistem pembayaran kepada masyarakat perlu memiliki visi yang sama dan komitmen yang kuat untuk mendorong penggunaan transaksi non tunai oleh masyarakat dalam mewujudkan LCS (Less Cash Society)

Lalu, jika kita membandingkan antara pembayaran tunai dan non tunai, apa saja sih kelebihan transaksi non tunai?

1. Pembayaran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja karena hanya menggunakan teknologi dalam pembayaranya, sehingga lebih efisien
2. Tidak lagi menerima pengembalian dalam bentuk barang kecil (permen) lantaran pedagang yang tidak memiliki pecahan uang kecil.
3. Sangat sesuai untuk pembayaran kecil sekalipun dalam kurun waktu yang sering, seperti pembayaran tol, parkir, transportasi dan lain lain.
4. Lebih safety. Keamanan yang tersistem karena dalam penggunaannya hanya kita yang bisa menggunakannya.
5. Transparan dalam setiap transaksi karena setiap transaksi non tunai yang kita lakukan terekam dan tercatat oleh sistem perbankan. 
Kekurangan Pembayaran Non-Tunai
1. Masih banyak masyarakat yang kurang paham dengan pemakaian dan penggunaan pembayaran non-tunai ini.
2. Belum semua merchant yang menerima pembayaran non tunai semacam ini, terutama di daerah.
Faktanya kelebihan pembayaran non tunai lebih banyak manfaatnya. Saya sendiri yakin, jika kekurangan tersebut cepat atau lambat nantinya akan semakin terkondisikan seiring waktu. Jadi, sekaranglah saatnya kita mulai beralih & mendukung Gerakan Nasional Non Tunai "Smart Money Wave" untuk kehidupan yang lebih baik.


*Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog Gerakan Nasional Non Tunai yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan NET.




Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

1 comment

  1. Ini enak simple ngak ribet bawa duit di dompet, tinggal gesek atau mobile

    ReplyDelete