Mengenal Lebih Dekat Dunia Literasi di Kampus Fiksi

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saat masih aktif di bangku kuliah, beberapa kali saya mengikuti kompetisi menulis cerpen. Hanya sekedar menyalurkan hasrat bercerita dalam bentuk tulisan saja niat saya. Syukur-syukur kalau memang dinilai bagus dan nama saya ada di daftar juara. Nyatanya dari kompetisi yang pernah saya ikuti, tak pernah satu pun mencantumkan nama saya sebagai salah satu pemenangnya. Kecewa? atau berkecil hati? tidak juga. Respon saya saat itu ya biasa saja. Wong bisa menulis dan berpartisipasi saja saya sudah senang. Namanya juga penulis amatir, pemilihan kata banyak yang murtad dari KBBI. Pun demikian dengan kalimat yang tidak runtut. Alhasil, tulisan-tulisan gagal saya waktu itu berakhir menjadi blog post di blog saya. Jika saya membaca kembali tulisan tersebut, rasanya malu sendiri. Itulah sebabnya tulisan-tulisan itu sudah saya tarik menjadi draft, dan menggantinya dengan tulisan catatan-catatan perjalanan saja.

Meski beberapa kali gagal di kompetisi, nyatanya saya punya beberapa pembaca setia saat itu. Mereka menanti-nanti blog post dari cerbung yang saya posting. Meski kemungkinan pembaca-pembaca tersebut amatir juga tak jauh beda dengan saya. Tapi tak mengapa, bukankah untuk semua hal itu harus diawali dengan proses belajar?

Tahun lalu, saya mendapat kesempatan itu. Ya, kesempatan belajar tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Marimar Mba Ayun salah satu editor dari penerbit Divapress yang saya kenal 2 tahun lalu dari sebuah komunitas backpacker memberi tahu saya untuk mengikuti seleksi Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2. Kampus Fiksi sendiri adalah semacam kelas kepenulisan yang diselenggarakan oleh penerbit Divapress selama 2 hari 2 malam di asrama secara gratis. Sedangkan edisi non fiksi adalah edisi khusus untuk pelatihan menulis non fiksi, seperti essai, resensi buku atau catatan perjalanan yang saya tulis di blog saya (www.lagilibur.com).  Sejauh ini, baru ada 2 angkatan untuk edisi non fiksi, dan saya saat itu mengikuti seleksi angkatan kedua. Sesuai dengan apa yang biasa saya tulis, saya mengirimkan draft tulisan catatan perjalanan Bali - Lombok. Tak di sangka, beberapa minggu kemudian saya mendapat email pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi.

Peserta Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2

Sebanyak 20 orang dari berbagai daerah satu persatu datang ke Kampus Fiksi. Beberapa peserta dijemput oleh panitia di terminal ataupun stasiun. Saya sendiri datang sendiri langsung ke asrama Kampus Fiksi dengan mengendarai sepeda motor. Setelah registrasi, saya pun diantar ke kamar yang sudah dihuni beberapa teman. Kami pun saling berkenalan. Ada Mas Muis seorang guru yang aktif menulis dari jember, Farid & Arif mahasiswa dari Kudus, Wahyu dari Jogja, dan masih banyak lagi. Ada rasa sedikit minder mengingat hampir semua dari mereka telah punya karya baik di media massa maupun dalam bentuk buku. Apalagi saat membaca judul karya yang mereka kirimkan saat seleksi. Mayoritas dari mereka menulis tentang essai yang ilmiah. Apalah saya yang hanya penulis catatan perjalanan di blog personal. Sebenarnya ada dua tulisan yang beda dari yang lainnya, yakni saya dan Mas Ardian, travel blogger juga yang aktif menulis di www.ardiankusuma.com.


Pagi itu, sesi pertama diawali dengan teknik editing yang disampaikan oleh Marimar, eh maksud saya Mba Ayun #Dikeplak. Dari sini saya jadi tahu salah satu teknik, yakni self editing atau membaca tulisan sendiri secara berulang untuk proses editing adalah salah satu cara efektif untuk meminimalisir kesalahan dalam menulis. Cara ini juga saya terapkan sebelum posting artikel di blog. Ingat ya, ini cara meminimalisir, jadi misal masih menemukan kesalahan dalam penulisan di artikel saya, harap maklum #TetepNgeles. 

Berikut beberapa hal yang perlu di perhatikan saat proses editing, yang mungkin bisa bermanfaat juga bagi teman-teman pembaca.

Landasan Mengedit :
- KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
- EYD 
- Selingkung (pedoman tata cara penulisan yang berlaku di masing-masing penerbit)

Hal-hal yang perlu di edit :
- Isi/Materi (data valid, sumber, no sara)
- Fokus dengan tema dan judul
- Pola kalimat (SPOK)
- Hindari ambigu
- Sistematika penulisan
- Diksi

Selain diajarkan self editing, di hari pertama kami juga di berikan banyak ilmu untuk teknik penulisan oleh Pak Edi selaku owner Divapress sekaligus rektor Kampus Fiksi. Saat itu Pak Edi menjelaskan banyak soal tips menulis, membuat outline hingga bagaimana tulisan agar diterima oleh penerbit menjadi buku.


Yang perlu disiapkan pra menulis :
- Menabung & memilih ide
- Mastering
- Penjajakan landasan teori
- Memahami common sense & proposisi
- Membuat outline

Tips menulis :
- Membangun opening yang memikat
- Menyajikan dengan runtut, sistematis antar kalimat & paragraf
- Disiplin pada outline
- Teknik analisis (menanjak, puncak, menurun)
- Ending dengan kalimat impresif, menghentak

Yang perlu dilakukan pasca menulis :
- Endapkan. Tinggalkan tulisan beberapa hri agar bisa lebih calm
- Lakukan self editing
- Pertajam hal-hal yang kurang tajam
- Perkaya diksi, kosa kata, gaya kalimat
- Kirim ke media
- Good ettitude

Saya masih ingat saat Pak Edi mengatakan good ettitude itu penting bagi seorang penulis. Karena terkadang karya yang bagus saja tak cukup jika ettitudenya kurang. Misalnya jika seorang penulis mengirimkan karya ke sebuah media dengan disertai kalimat arogan/perintah. Contoh : "saya kirimkan cerpen ini, mohon segera dimuat. Jika tidak, saya akan mengirimkannya ke media lain". Hal ini kata Pak Edi sangat tidak etis, namun demikian masih ada penulis yang memiliki ettitude yang demikian.




Selesai istirahat, dengan didampingi mentor kami diminta untuk praktek menulis apapun sesuai dengan bidangnya dalam waktu 2 jam termasuk dengan outline yang bisa dikembangkan untuk menjadi buku. Saat itu kelompok saya mendapat mentor Mas Dewa, editor Divapress untuk buku parenting. Mayoritas peserta masih membuat tulisan berupa essai baik tentang sosial politik, agama, kesehatan, parenting, dll. Saya dan Mas Ardian tetap menulis tentang catatan perjalanan. Saya sendiri saat itu menulis tentang wisata Kota Semarang dengan judul "Senang & Kenyang Keliling Semarang", sedangkan Mas Ardian menulis tentang backpaking di Jogjakarta.


Sore hingga malam hari acara bebas. Kami memanfaatkannya untuk jalan-jalan. Bagi peserta yang dari luar kota hal ini merupakan kesepatan yang bagus untuk menikmati Kota Jogjakarta saat malam hari. Saat itu peserta diajak jalan-jalan ke Malioboro.


Hari kedua, acara diawali dengan materi pengetahuan pasar buku Indonesia oleh Mas Aconk. Disini kami diberikan tips bagaimana menulis buku yang sesuai dengan pasar dan dapat menjadi best seller. Di sesi selanjutnya, tim redpel non fiksi mengajak sharing seputar keredaksian. Dari sini kami juga paham tentang keredaksian hingga berapa royalti yang bisa didapatkan penulis jika bukunya diterbitkan. 

Sebelum istirahat, kami diajarkan teknik meresensi buku oleh Mas Sam Edy. Bagi yang sering baca resensi buku mungkin sudah tak asing dengan namanya. Selesai istirahat, giliran redaktur koran harian Jawa Pos yang memberikan materi tentang kiat menembus media massa. Sayangnya saya lupa mencatat apa yang disampaikan saat itu. Tapi beberapa hal yang saya ingat diantaranya : menulis sesuatu yang sesuai dengan moment (dikirim tidak terlalu mepet dengan moment tersebut), berikan jeda saat mengirimkan tulisan ke satu media yang sama. Redaksi media biasanya memberikan kesempatan bagi penulis lain untuk dimuat, sehingga sebaiknya selama memberikan jeda pada satu media, penulis mengirim ke media lainnya.


Selanjutnya, kami berkumpul dengan kelompok masing-masing untuk evaluasi karya yang kami tulis sebelumnya. Di kesempatan ini Mas Dewa memberikan banyak masukan untuk tulisan kami. Sesi ini merupakan sesi terakhir untuk Kampus Fiksi saat itu, karena malamnya KF edisi non fiksi di tutup. Kami foto bersama, dan panitia juga memutarkan video yang berisikan foto-foto kegiatan kami selama KF berlangsung. 



Menjadi salah satu peserta di Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2, bagi saya adalah suatu kebanggaan. Banyak ilmu seputar kepenulisan yang saya dapatkan dari sana, meski hingga sekarang saya belum menghasilkan suatu karya. Tapi saya selalu ingat dengan kalimat Pak Edi yang selalu berulang mengatakan. Jangan malu jika belum punya karya, karna ada yang jauh lebih penting di Kampus Fiksi, yakni "paseduluran" atau dalam bahasa Indonesia adalah kekeluargaan. Ya, sebagai salah satu alumni Kampus Fiksi, saya mendapat banyak saudara dan keluarga. Tak jarang saat berada di suatu acara, saya mendapati alumni Kampus Fiksi entah dari angkatan berapa. Berminat untuk belajar tentang kepenulisan dan mengenal dunia literasi? Gabung di Kampus Fiksi!

Web : http://kampusfiksi.com/
Twitter : @KampusFiksi
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

2 comments