Sumber : google.co.id
Akhir pekan lalu, untuk kedua kalinya saya diundang untuk sebuah acara talkshow yang di selenggarakan oleh Sun Life Financial Indonesia bertepat di Double Decker Casual Dining Solo Baru. Sebelumnya, saya sudah menghadiri talkshow yang sama, dan saya tulis reviewnya di blog www.lagilibur.com sedangkan untuk acara talkshow di Solo ini, saya datang dengan atas nama blog www.ajisukma.com. Sebenarnya tak ada banyak perbedaan acara talkshow di Solo dengan yang ada di Jogja. Lalu, apa alasan saya kembali hadir di acara yang sama tersebut?

Pertama, yaitu untuk menjalin pertemanan. Yapz, perbedaan antara talkshow di Jogja dan di Solo tak lain adalah pesertanya yang beda (kecuali saya) hehehe. Tujuan utama saya menghadiri acara seperti ini biasanya adalah membangun networking. Banyak orang yang bisa saya temukan di acara seperti ini, dan tak jarang kami berteman baik. Jawaban ini pula yang saya sampaikan saat saya di wawancara oleh panitia saat talkshow di Jogjakarta. Kedua, banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dari acara seperti ini. Kebetulan, kedua talkshow ini menghadirkan Mba Donna Imelda sebagai speakernya. Beliau adalah travel writer yang dengan senang hati berbagi pengalaman. Di Solo, speaker keduanya adalah Mas Kristian Nico. Wirausahawan muda yang inspiratif dan sukses di bidang clothing. 
Saya masih ingat beberapa tahun lalu saat masih aktif di bangku kuliah, beberapa kali saya mengikuti kompetisi menulis cerpen. Hanya sekedar menyalurkan hasrat bercerita dalam bentuk tulisan saja niat saya. Syukur-syukur kalau memang dinilai bagus dan nama saya ada di daftar juara. Nyatanya dari kompetisi yang pernah saya ikuti, tak pernah satu pun mencantumkan nama saya sebagai salah satu pemenangnya. Kecewa? atau berkecil hati? tidak juga. Respon saya saat itu ya biasa saja. Wong bisa menulis dan berpartisipasi saja saya sudah senang. Namanya juga penulis amatir, pemilihan kata banyak yang murtad dari KBBI. Pun demikian dengan kalimat yang tidak runtut. Alhasil, tulisan-tulisan gagal saya waktu itu berakhir menjadi blog post di blog saya. Jika saya membaca kembali tulisan tersebut, rasanya malu sendiri. Itulah sebabnya tulisan-tulisan itu sudah saya tarik menjadi draft, dan menggantinya dengan tulisan catatan-catatan perjalanan saja.

Meski beberapa kali gagal di kompetisi, nyatanya saya punya beberapa pembaca setia saat itu. Mereka menanti-nanti blog post dari cerbung yang saya posting. Meski kemungkinan pembaca-pembaca tersebut amatir juga tak jauh beda dengan saya. Tapi tak mengapa, bukankah untuk semua hal itu harus diawali dengan proses belajar?

Tahun lalu, saya mendapat kesempatan itu. Ya, kesempatan belajar tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Marimar Mba Ayun salah satu editor dari penerbit Divapress yang saya kenal 2 tahun lalu dari sebuah komunitas backpacker memberi tahu saya untuk mengikuti seleksi Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2. Kampus Fiksi sendiri adalah semacam kelas kepenulisan yang diselenggarakan oleh penerbit Divapress selama 2 hari 2 malam di asrama secara gratis. Sedangkan edisi non fiksi adalah edisi khusus untuk pelatihan menulis non fiksi, seperti essai, resensi buku atau catatan perjalanan yang saya tulis di blog saya (www.lagilibur.com).  Sejauh ini, baru ada 2 angkatan untuk edisi non fiksi, dan saya saat itu mengikuti seleksi angkatan kedua. Sesuai dengan apa yang biasa saya tulis, saya mengirimkan draft tulisan catatan perjalanan Bali - Lombok. Tak di sangka, beberapa minggu kemudian saya mendapat email pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi.

Peserta Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2

Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home