Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk hadir di sebuah acara soft launching DGD yang merupakan karya terbaru dari PT. Aseli Dagadu Djokdja. Acara ini berlangsung di Lippo Plaza Jogja dengan menghadirkan Pak Noor Arief (owner PT Aseli Dagadu Djogdja) Kadek Arini (Travel Blogger) dan Paksi Raras (personil group musik Mantradisi). Malam itu, kami tak hanya antusias mendengarkan Pak Arif yang bercerita seputar produk terbarunya, namun juga sangat senang saat Kadek Arini yang bercerita tentang pengalaman travelingnya, dan Paksi Raras yang menceritakan karya musiknya. Bincang-bincang malam itu berlangsung sangat santai dan penuh keakraban. Meski awalnya saya sempat berfikir kenapa Pak Arif mengehadirkan Kadek Arini dan Paksi Raras, namun belakangan saya jadi paham. Kedua bintang tamu ini bagi saya memang cukup mewakili produk barunya. Muda, kreatif, dan kekinian. 

Soft Launching DGD
"Lemes le, ora sido bakdo". Demikian kata bulik saya yang kurang lebih berarti "lemas le, tidak jadi lebaran" sesaat setelah bercerita tentang dompet beserta isinya yang telah jatuh dan hilang di jalan saat perjalanan ke mall untuk membeli baju lebaran anak-anaknya.

Sumber : google.com

Sumber : google.co.id
Akhir pekan lalu, untuk kedua kalinya saya diundang untuk sebuah acara talkshow yang di selenggarakan oleh Sun Life Financial Indonesia bertepat di Double Decker Casual Dining Solo Baru. Sebelumnya, saya sudah menghadiri talkshow yang sama, dan saya tulis reviewnya di blog www.lagilibur.com sedangkan untuk acara talkshow di Solo ini, saya datang dengan atas nama blog www.ajisukma.com. Sebenarnya tak ada banyak perbedaan acara talkshow di Solo dengan yang ada di Jogja. Lalu, apa alasan saya kembali hadir di acara yang sama tersebut?

Pertama, yaitu untuk menjalin pertemanan. Yapz, perbedaan antara talkshow di Jogja dan di Solo tak lain adalah pesertanya yang beda (kecuali saya) hehehe. Tujuan utama saya menghadiri acara seperti ini biasanya adalah membangun networking. Banyak orang yang bisa saya temukan di acara seperti ini, dan tak jarang kami berteman baik. Jawaban ini pula yang saya sampaikan saat saya di wawancara oleh panitia saat talkshow di Jogjakarta. Kedua, banyak ilmu yang bisa saya dapatkan dari acara seperti ini. Kebetulan, kedua talkshow ini menghadirkan Mba Donna Imelda sebagai speakernya. Beliau adalah travel writer yang dengan senang hati berbagi pengalaman. Di Solo, speaker keduanya adalah Mas Kristian Nico. Wirausahawan muda yang inspiratif dan sukses di bidang clothing. 
Saya masih ingat beberapa tahun lalu saat masih aktif di bangku kuliah, beberapa kali saya mengikuti kompetisi menulis cerpen. Hanya sekedar menyalurkan hasrat bercerita dalam bentuk tulisan saja niat saya. Syukur-syukur kalau memang dinilai bagus dan nama saya ada di daftar juara. Nyatanya dari kompetisi yang pernah saya ikuti, tak pernah satu pun mencantumkan nama saya sebagai salah satu pemenangnya. Kecewa? atau berkecil hati? tidak juga. Respon saya saat itu ya biasa saja. Wong bisa menulis dan berpartisipasi saja saya sudah senang. Namanya juga penulis amatir, pemilihan kata banyak yang murtad dari KBBI. Pun demikian dengan kalimat yang tidak runtut. Alhasil, tulisan-tulisan gagal saya waktu itu berakhir menjadi blog post di blog saya. Jika saya membaca kembali tulisan tersebut, rasanya malu sendiri. Itulah sebabnya tulisan-tulisan itu sudah saya tarik menjadi draft, dan menggantinya dengan tulisan catatan-catatan perjalanan saja.

Meski beberapa kali gagal di kompetisi, nyatanya saya punya beberapa pembaca setia saat itu. Mereka menanti-nanti blog post dari cerbung yang saya posting. Meski kemungkinan pembaca-pembaca tersebut amatir juga tak jauh beda dengan saya. Tapi tak mengapa, bukankah untuk semua hal itu harus diawali dengan proses belajar?

Tahun lalu, saya mendapat kesempatan itu. Ya, kesempatan belajar tentang bagaimana menulis yang baik dan benar. Marimar Mba Ayun salah satu editor dari penerbit Divapress yang saya kenal 2 tahun lalu dari sebuah komunitas backpacker memberi tahu saya untuk mengikuti seleksi Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2. Kampus Fiksi sendiri adalah semacam kelas kepenulisan yang diselenggarakan oleh penerbit Divapress selama 2 hari 2 malam di asrama secara gratis. Sedangkan edisi non fiksi adalah edisi khusus untuk pelatihan menulis non fiksi, seperti essai, resensi buku atau catatan perjalanan yang saya tulis di blog saya (www.lagilibur.com).  Sejauh ini, baru ada 2 angkatan untuk edisi non fiksi, dan saya saat itu mengikuti seleksi angkatan kedua. Sesuai dengan apa yang biasa saya tulis, saya mengirimkan draft tulisan catatan perjalanan Bali - Lombok. Tak di sangka, beberapa minggu kemudian saya mendapat email pemberitahuan bahwa saya lolos seleksi.

Peserta Kampus Fiksi edisi Non Fiksi 2

Seperti biasanya, selalu ada drama di setiap perjalanan saya dengan kereta. Entah sudah keberapa kalinya. Sore itu seharusnya saya sudah boarding di Stasiun Purwosari. Kereta saya akan berangkat satu jam lagi, sedangkan saya masih menunggu bus yang tak kunjung datang. Untunglah, di waktu yang sudah darurat ini, kakak ipar saya jadi malaikat penyelamat. Awalnya saya fikir saya bisa sampai di stasiun cukup dengan naik bus, nyatanya hampir 1 jam saya menunggu, tak ada satu pun bus yang lewat. Sekitar 15 menit sebelum keberangkatan kereta, saya sampai di stasiun. Di sana sudah menunggu beberapa teman lain, ada Kak Maya, Mas Is, dan Mas Eko. Sore itu kami akan berangkat bersama ke Jakarta untuk acara NET CJ Camp 2.0 yang di selenggarakan oleh NET di D'Jungle Camping Ground Bogor, Jawa Barat. Selain kami berempat, masih ada 2 orang lagi dari Solo, yakni Gigih & Monic yang berada di gerbong lain meski masih dalam satu kereta yang sama.

Pagi subuh kami sudah berada di Stasiun Pasar Senen. Disana sudah menunggu Mas Adam dari NET yang menjemput kami dan CJ lain yang akan hadir di acara yang sama. Tak lama, mobil kami melaju ke Gedung The East daerah Mega Kuningan. Pagi itu, satu per satu para CJ (Citizen Journalist) dari berbagai daerah di Indonesia hadir di tempat yang sama. Total sebanyak 40 CJ dari berbagai daerah di Indonesia tersebut terpilih untuk hadir di acara yang juga merupakan gathering pertama para CJ ini. Di acara ini lah pertama kali kami saling mengenal dan tatap muka, yang sebelumnya hanya tahu nama mereka dari televisi saja. 

CJ berkumpul di NET

Lalu, bagaimana kami terpilih?

Sebelumnya, saya sudah sering diajak oleh teman-teman saya untuk mengikuti kegiatan yang memiliki motto "Sehari Mengajar, Selamanya Menginspirasi". Yaps, banyak dari mereka yang sudah berani mengajar sehari di Kelas Inspirasi. Sedangkan saya, baru kali ini berani unjuk gigi. Itupun karena kegiatan ini berlangsung di kota asal saya, Boyolali. Rasanya kebangetan jika di kota sendiri saya tak ikut berpartisipasi. Sempat ingin mendaftar sebagai fasilitator karena belum percaya diri untuk mengajar, namun akhirnya salah seorang panitia meyakinkan saya untuk mendaftar sebagai inspirator. "Sayang kalau cuma jadi fasilitator" katanya sesaat setelah saya bercerita tentang profesi Citizen Journalist. Profesi ini dinilai baru dan menarik untuk disampaikan di kelas inspirasi.

Kelas Inspirasi Boyolali

Next PostNewer Posts Home